Oleh : Hasbunallah Haris
Seorang Kartografer asal Spanyol, Fernao Vaz Dourado di tahun 1520 merilis peta terbarunya dengan konsep yang lebih modern sebagai acuan untuk memetakan seluruh dunia. Dalam peta tersebut dia menjabarkan bagaimana cara menghitung hari pasca pelayaran, dan menghitung jarak yang seharusnya dapat ditempuh untuk sampai ke titik tertentu, misalkan jika berangkat di penghujung musim panas, dapat diketahui posisi kala berada di awal musim dingin hanya dengan menghitung perkiraan waktu yang tertera di dalam peta. Ini menjadi suatu kemajuan tersendiri dalam dunia kartografi, petanya disalin berkali-kali dan dibawa oleh banyak pelaut Spanyol mengarungi lautan.
Di halaman 36 yang menggambarkan peta Indonesia (belum termasuk Nugini karena ekspedisi belum sampai ke sana) terdapat satu titik yang menghubungkan begitu banyak garis-garis merah di dalam peta, garis tersebut diberi nama Managabo (Minangkabau) sebagai pusat pelabuhan dan perdagangan di pantai barat Sumatera. Pelabuhan tersebut terletak di dekat Gunung Padang sekarang, wilayah taplau dan kota tua yang sejak dulu dipakai sebagai gudang rempah.
Di tahun-tahun sekulerisme mulai menggenangi dunia, sebuah organisasi sekuler bernama Freemason menggeliat di Eropa, jangkauan tangannya mulai merengsek maju dan membangun loji-loji di seluruh dunia untuk kelangsungan hidup yang lebih baik, humanisme, dan saling menghargai. Kelompok ini kemudian secara perlahan mulai melirik arah Timur Jauh (Nusantara dulu juga disebut dengan julukan ini) dan menjangkau pengaruh. Tahun 1764, kelompok yang pada mulanya hanya beranggotakan sedikit pemikir, seniman, ahli politik serta ekonomi ini mulai membangun loji di Batavia, mereka mendirikan loji La Choisie (‘yang terpilih’). Tidak berselang lama, kegiatan Freemason di Batavia mulai eksis dengan keberadaan loji La Fidele Sincerite (‘kesetiaan yang tulus’) pada 1767 dan La Vertueuse (‘kebajikan’) pada 1769.
Pasca mengetahui jalur perdagangan dan industri, mereka tahu Sumatera adalah penghasil bahan baku dan pertambangan yang sangat potensial untuk komoditi yang diminati pasar Eropa, karena jika ingin membantu, pertama yang harus dilakukan adalah menguatkan sektor ekonomi. Mereka mulai merambah Sumatera dengan mendirikan loji di Aceh, Medan, Palembang, dan Padang. Keberadaan loji-loji ini akan membantu mereka memetakan wilayah dan melakukan hal-hal yang dirasa perlu.Di Padang, mereka menyewa sebuah tempat yang kemudian dijadikan sebagai loji di Jalan Belakang Tangsi pada 1876 hingga 1931. Jika merujuk pada buku Dr. Th. Stevens (1994) Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962 keberadaan Freemason di Padang tertulis cukup terang, namun tidak diketahui secara pasti di titik mana gedung itu pernah berdiri.
Loji tersebut dinamakan sebagai loji “Mata Hari” dengan nomor 46 dan menjadi loji nomor 7 yang didirikan di Hindia Belanda dan yang pertama di luar Pulau Jawa. T.H. Stevens (1994) mencatat bahwa cikal bakal Loji Mata Hari sudah ada sejak 11 Desember 1857, ketika delapan orang anggota Freemason berkumpul di rumah seorang Belanda bernama Jacob van Vollenhoven di Padang, untuk membahas pendirian loji.
Setahun lebih setelah pertemuan awal itu tepatnya pada 14 Mei 1859 loji Mata Hari di Padang diresmikan dengan jumlah anggota sebanyak 14 orang. Upacara peresmian loji tersebut menetapkan A. J. Wichers sebagai Pejabat Wakil Suhu Agung Nasional Tarekat Kaum Mason Bebas untuk Bagian Timur dan Barat Hindia Belanda.
Tahun 1876 anggota loji Mata Hari tercatat telah mencapai anggota 39 orang. Theo Stevens menuliskan bahwa setelah kebangkitan loji Mata Hari, mereka semakin aktif mengadakan program eksternal, seperti pendirian Perpustakaan Rakyat yang bertahan hingga lima puluh tahun, sekolah Fröbel (sekolah bagi anak-anak), serta memprakarsai pendirian Padangsche Spaarbank (Bank Tabungan Rakyat) yang semula didirikan untuk kesejahteraan masyarakat.
Pada permulaan berdirinya, sekolah tersebut sempat menampung 35 murid. Dalam beberapa bulan, jumlah murid bertambah hingga mencapai total 51 murid. Karena perkembangan jumlah dan latar belakang siswa, terdapat kelas untuk murid-murid Eropa dan kelas tersendiri untuk anak-anak Indonesia.
Minimnya literatur dan catatan yang membahas mengenai perkembangan Freemason di Padang ini menjadi hambatan yang cukup berarti, pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana konfliknya dengan gereja dan pemerintah Belanda tidak tercatat secara utuh, rangkuman yang sangat terbatas itu pun sudah dipadukan dengan ingatan penduduk lokal yang masih menerima cerita dari ayah dan kakek mereka.
Sejauh yang diketahui, kelompok ini kemudian menjalankan bisnis di sektor ekonomi dan membangun sekolah dan perpustakaan, serta di hari-hari tertentu mereka juga mengadakan kegiatan amal dan membagikan makanan. Beberapa catatan yang perlu dikonfirmasi ulang, beberapa kali mereka sempat bentrok dengan pemerintah kolonial karena menghambat lanjunya perdagangan mereka. Antara Padangsch Spaarbank dan Javansch Bank Muaro pernah terjadi perang dingin ekonomi, dominasi terhadap perkebunan dan tambang menjadi sebab konflik yang tercipta di antara mereka.
Namun, catatan perang dingin tersebut perlu ditinjau ulang karena dalam beberapa catatan lain menyebutkan bahwa Belanda di awal-awal pelayarannya, sebelum De Houtman dan yang lain menapak di Jawa, orang-orang Freemasonlah yang menawarkan pelayaran pada mereka ke Timur Jauh, mereka membawakan buku catatan Juy Huygen van Linschoten yang berisi keterangan pelayaran menuju Timur Jauh, catatan ini menjadi pedoman yang dipakai Belanda untuk sampai ke nusantara.
Catatan ini tentu saja bagian kecil yang peru banyak ditambahkan jika data-data terbaru ditemukan atau beberapa keterangan terkait, namun untuk sementara, kita dapat menyimpulkan kegiatan Freemason sudah cukup mengakar dan mereka memilih Padang sebagai loji peprtama di Sumatera karena menempati jalur perdagangan yang sibuk dan ramai, potenti ini tentu saja tidak akan mereka lewatkan karena kesempatan besar sudah di depan mata, hanya perlu sedikit kedisiplinan dan kerja keras serda kecerdasan untuk mengimbangi kerja-kerja kolonial di Padang, dan itulah yang mereka lakukan sebelum kemudian di tahun-tahun berikutnya Soekarno melarang organisasi yang disinyalir akan menghancurkan keutuhan negara.(*)
sumber : https://www.expossumbar.com/berita/4002/menapak-ulang-jejak-freemason-di-kota-padang

