Deretan Proyek Tugu dengan Harga Fantastis di Kalimantan Timur

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Inilah deretan proyek tugu dengan harga fantastis di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Proyek tugu di Kaltim ini menyita perhatian masyarakat.

Selain Tugu Pesut Samarinda di simpang empat Mall Lembuswana, ada juga Tugu PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) di simpang tiga Kelurahan Tanjung Laut, Kota Bontang.

Kemudian tugu bulan sabit yang berlokasi di Bundaran Masjid Al-Faruq Bukit Pelangi Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Disusul ada tugu pesut berbahan besi, proyek milik Pemprov Kaltim yang berdiri di Kota Samarinda yang juga tak lepas dari sorotan.

Keempat tugu yang dikerjakan pemerintah tersebut, diketahui jika proyek Tugu Pesut di Samarinda Seberang menjadi yang termahal dari kedua.

Tugu Pesut yang dikerjakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) itu menelan biaya Rp 1,8 miliar.

Sementara urutan pertama ditempati tugu bulan sabit senilai Rp2,5 miliar dari APBD 2023 yang berlokasi di Bundaran Masjid Al-Faruq Bukit Pelangi Sangatta, Kutim.

Disusul tugu Pesut Samarinda senilai Rp 1,1 miliar, dan tugu PKK Bontang bernilai Rp 800 juta.

Tugu bulan sabit di Kutim yang terbuat dari konstruksi baja berwarna merah bata, dengan hiasan 99 nama Asmaul Husna tersebut diharapkan dapat menjadi ikon baru untuk Sangatta. 

Tetapi, desainnya yang abstrak telah memicu perdebatan nilai estetik dan makna simbolisnya.

Menanggapi hal tersebut, anggota DPRD Kutim Novel Tyty Paembonan mengatakan, setiap pembangunan sejatinya memiliki harapan dan tujuan yang baik. 

Namun beragam kritik dan pendapat dari masyarakat juga tidak dapat disalahkan.

“Terkait persoalan itu, mungkin nanti teman-teman (wartawan) bisa berbicara langsung ke dinas terkait. Kalau kita merasa pembangunan itu belum maksimal, coba kita poles biar lebih cantik, lebih manis sehingga punya nilai yang lebih baik,” ungkapnya.

Tugu Pesut Pemprov Kaltim juga jauh dari kampanye ramah lingkungan. 

Sebab, material yang digunakan plat galvanis alias perpaduan antara besi dan seng yang tentunya akan memantulkan panas matahari dan menambah efek rumah kaca.

Sedangkan Tugu PKK di Bontang juga tak jauh berbeda. 

Meski menggelontorkan anggaran terkecil, namun proyek ini menuai kritik karena dianggap tidak sesuai dengan desain yang sebelumnya dirilis pemerintah. 

Detail patung Burung Kuntul Perak, ikon utama tugu setinggi 14 meter ini, dinilai belum lah sempurna. 

Bagian sayap burung masih terlihat rangka besi, sehingga mengurangi estetika keseluruhan.

Di sisi lain, tugu Pesut yang kerjakan Pemkot Samarinda menjadi yang paling unggul. 

Pasalnya, penggunaan material yang ramah lingkungan, dengan penggunaan bahan baku utama HDPE daur ulang dari sampah tutup botol.

Tugu ini menjadi simbol komitmen Kota Samarinda dalam mengelola sampah dan menjaga kelestarian lingkungan, khususnya Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus.

Perancang tugu dari CV Evolution Vergian Septiandy mengatakan, pemilihan bahan daur ulang ini memiliki makna yang mendalam. 

Pihaknya ingin memicu diskusi publik persoalan lingkungan yang disematkan, khususnya terkait pengelolaan sampah plastik. 

“Selama ini belum banyak karya seni publik di Samarinda yang mengangkat isu lingkungan secara eksplisit,” sebutnya.

Selain itu, dijelaskannya juga kalau pemakaian dari Tugu Pesut ini menjadi bentuk nyata untuk menuju penggunaan material ramah lingkungan. 

Ia pun berharap masyarakat juga bisa melihat, bahwa bangunan ini bukan hanya sekadar ikon.

Namun, bagaimana kepedulian tentang sampah bisa dibangkitkan dan menjadi gerakan baru untuk mengurangi sampah. 

“Jadi, ini tentang permasalahan persampahan kota. Bagaimana mengelola sampah yang tidak bisa hanya dari pemerintah, tapi perlu dukungan Masyarakat untuk mengurangi sampah, khususnya plastik, yang mana diketahui butuh lebih dari 400 tahun plastic bisa hancur,” tandasnya.

Sementara terkait Tugu PKK Bontang yang banyak dikritik masyarakat juga menuai sorotan tajam dari Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam.

Pertama, kata dia, detail patung Burung Kuntul Perak, dinilai belum sempurna.

Kemudian di bagian sayap burung masih terlihat rangka besi, sehingga mengurangi estetika dan jauh dari sempurna. 

Terlebih lagi, hasil akhir Tugu tidak sesuai dengan sketsa gambar yang dirilis pemerintah Kota Bontang sebelumnya.

“Wajar ribut di media, finishingnya tidak sesuai harapan. Ini disayangkan kalau dikatakan sudah rampung, karena hasilnya masih jauh dari sempurna. Lihat saja catnya belang-belang,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Menurutnya, proyek tugu PKK mencerminkan lemahnya perencanaan dan pengawasan dari dinas terkait.

“Menjadi sorotan saya adalah perencanaan, manfaat pembangunan, dan pengadaan barang yang tidak direncanakan dengan matang. Sehingga manfaatnya tidak tepat sasaran,” tandasnya.

Terkait tugu Pesut di Samarinda Seberang pihak Pemprov Kaltim yang dikonfirmasi masih belum memberikan tanggapannya. Kepala Dinas PUPR-Pera Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda dan Rahmat Hidayat selaku Kepala Bidang Cipta Karya tidak memberikan respons saat dihubungi lewat sambungan telepon seluler.

Persoalan tugu di setiap daerah ini tentu diharap bisa mendapat perhatian dari Aparat Penegak Hukum (APH). 

Jajaran Polda Kaltim maupun Kejaksaan Tinggi Kaltim diharap bisa turun tangan untuk mengusut sejumlah kontroversi dari pembangunan tugu yang dikerjakan secara asal-asalan.

Penggunaan anggaran besar, hingga tak mengindahkan penggunaan material ramah lingkungan perlu mendapatkan perhatian. (*)

sumber : https://kaltim.tribunnews.com/2025/01/27/deretan-proyek-tugu-dengan-harga-fantastis-di-kalimantan-timur.
Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Diah Anggraeni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *