Dunia Pendidikan Berduka, 11 Guru PAUD Meninggal

Saya ucapkan dulu, “Innalillahiwainnailaihirojiun” Dapat kabar duka dari Kepala Kemenag Sambas, Mahmud Jayadi. Sebuah duka terutama dunia pendidikan di tanah air. Mari simak narasinya dan siapkan tisunya.

Angin pagi itu semilir lembut di Magelang. Sebelas guru PAUD dari SD Islam Tahfidz Qur’an As Syafiiyah bersiap-siap. Mereka berpakaian sederhana tapi rapi. Sebagian membawa tas kecil berisi mukena dan air mineral. Tujuan mereka bukan wisata, bukan liburan, tapi takziah. KH. Barzakki, seorang ulama sepuh yang mereka hormati, telah berpulang. Mereka ingin hadir, bukan hanya untuk mendoakan, tapi karena bagi mereka, takziah adalah bagian dari cinta dan adab.

Di dalam angkot biru itu, mereka duduk berdempetan. Ada yang melantunkan shalawat, ada yang bercerita pelan tentang murid-murid mereka yang lucu. “Kemarin si Abiy nangis gara-gara salah hafalan,” ujar salah satu guru, diiringi tawa kecil. Tak ada yang tahu bahwa tawa itu adalah yang terakhir. Bahwa perjalanan ini adalah perjalanan pulang, bukan ke rumah mereka, tetapi ke kampung akhirat.

Di jalan menurun Kalijambe, Kecamatan Bener, truk tronton bermuatan pasir melaju kencang. Remnya blong. Kendali hilang. Truk itu tak menoleh pada doa, tak peduli pada air mata, tak tahu siapa yang akan dilindasnya. Ia meluncur seperti besi neraka, menabrak angkot biru yang penuh dengan cinta, ilmu, dan pengabdian.

Benturan itu memekakkan langit. Angkot terguling. Besi bengkok. Tubuh-tubuh mulia itu terhimpit di antara kerangka mobil yang hancur. Beberapa meregang nyawa dalam pelukan sahabatnya sendiri. Sebagian meninggal dengan mata terbuka, seolah masih ingin menyampaikan pesan terakhir yang tak sempat terucap.

Sebelas guru, semuanya perempuan. Semuanya pendidik anak-anak usia dini, mereka meninggal di tempat. Bukan karena mereka salah. Bukan karena mereka ceroboh. Tapi karena sistem jalan yang abai. Karena kendaraan tambang yang semestinya tidak melaju di jam dan jalan itu. Karena kehidupan yang tak adil, bahkan untuk orang sebaik mereka.

Di RSUD Purworejo, enam korban lain dilarikan dalam kondisi luka parah. Salah satu di antaranya belum sadarkan diri hingga kini. Suami dan anak-anak para guru itu datang satu per satu ke rumah sakit dan kamar jenazah. Seorang anak perempuan berumur lima tahun bertanya, “Kenapa mama nggak bangun, Bu? Aku belum hafal doa tidur…”

Siapa yang bisa menjawab? Siapa yang mampu menenangkan hati seorang anak yang ibunya pergi tanpa pamit, tanpa pelukan terakhir?

Di sekolah tempat mereka mengajar, kelas PAUD sepi hari itu. Buku-buku bacaan kecil berserakan di meja. Kursi mungil kosong. Beberapa anak kecil menangis tak tahu kenapa. Mereka belum mengerti arti duka, tapi mereka tahu, guru mereka tak datang.

Di langit-langit kelas, nama para guru itu terukir dalam diam. Mereka tak akan kembali. Tapi suara mereka masih bergema, suara menyebut huruf hijaiyah, membacakan kisah Nabi, mengajari wudhu, menuntun anak kecil menyebut “Allah” untuk pertama kali.

Mereka bukan pahlawan nasional. Tak ada bintang jasa. Tapi mereka adalah pahlawan sesungguhnya. Mereka gugur saat dalam perjalanan cinta. Cinta kepada ulama, cinta kepada ilmu, cinta kepada adab.

Mereka syahid. Kita yang hidup, wajib memastikan bahwa mereka tidak gugur sia-sia.

Tapi maafkan kami, Bu Guru. Maafkan kami yang lambat memperbaiki jalan. Maafkan kami yang membiarkan truk-truk tambang merajalela. Maafkan kami yang baru peduli setelah nyawa kalian terbang.

Kini yang bisa kami lakukan hanya mendoakan. Semoga Allah terima semua amalmu. Semoga di surga, kalian mengajar bidadari kecil yang belajar Al-Qur’an. Semoga anak-anak yang kalian tinggalkan kelak tumbuh menjadi ulama, menjadi pejuang ilmu, menjadi penebus kehilangan ini.

Untuk sebelas guru PAUD yang syahid di jalan takziah…
Kami menangis. Kami berjanji untuk tidak lupa.

Al-Fatihah.

#camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *