Kalau nuan kecewa Timnas Wanita Indonesia kalah dari Taiwan, maka maaf, ikam belum cukup tercerahkan secara sportivitas. Kekalahan 1-2 itu bukan kegagalan. Itu adalah sajak patah hati yang indah. Sebuah karya seni instalasi lapangan hijau, dan tentu saja, langkah awal menuju kejayaan yang belum nyata. Siapkan kopi tanpa gulanya, wak. Inilah kisah para srikandi kita yang berjuang demi Merah Putih.
Mari kita resapi bersama, Sabtu, 5 Juli 2025, di Sport Centre Kelapa Dua Tangerang, tempat biasa warga Tangerang belanja cilok dan minum es teh manis, terjadi duel epik. Bukan antara dua kekuatan sepak bola dunia, melainkan antara realitas dan harapan. Seperti biasa, harapan hanya menang di Tiktok, bukan di lapangan.
“Kalau gagal ya wajarlah. Kita kan tidak punya kompetisi resmi sepakbola wanita. Yang ada hanya pria,” kata netizen dengan nada kesal, namun penuh kejujuran dari lubuk hati terdalam.
Tentu saja ini benar. Apa yang kita harapkan dari para Srikandi kita yang berlatih di tengah keterbatasan? Stadion kadang dipakai sunatan massal. Gaji? Mending jadi barista. Media coverage? Hanya ada saat mereka menang atau, seperti sekarang, kalah dan butuh kambing hitam yang bisa dikasih emot sedih.
Namun justru di sanalah keindahan sejati sepak bola wanita Indonesia. Mereka bermain bukan karena glamor, tapi karena cinta. Bukan karena liga, tapi karena logika mereka sudah melampaui eksistensi liga itu sendiri.
Laga dimulai dengan semangat membara. Baru menit 5, Rosdillah sudah nyaris menjebol gawang lawan. Bola kelihatan sudah melewati garis gawang, tapi wasit bilang, “Ah, tidak. Itu hanya ilusi optik. Yang nyata adalah penderitaanmu.” Itu kalau main di Liga Tarkam, mungkin si wasit sudah dikejar massa dari segala arah penjuru angin.
Menit-menit berikutnya adalah pertunjukan epik antara De Rouw the Wall versus serangan Taiwan yang seperti diskon belanja, datang terus tanpa henti. De Rouw menyelamatkan gawang seperti robot pintar penjaga gawang. Tapi robot pun bisa lelah, low bat. Akhirnya, gawang kebobolan juga.
Helsya sempat menyamakan kedudukan di menit 48 lewat gol yang lebih dramatis dari ending sinetron Ramadan. Tapi seperti biasa, kisah kita belum boleh bahagia. Karena Liu Yu-chiao, yang mungkin belajar menendang dari film Shaolin Soccer, mencetak gol dari luar kotak penalti yang menghancurkan harapan bangsa.
Kita tidak punya liga, tapi kita ingin juara Asia. Ibarat ingin jadi dokter tanpa pernah kuliah. Ini bukan sekadar satire, ini adalah refleksi filosofis tentang bagaimana kita memperlakukan atlet wanita seperti cerita latar belakang di drama Korea, penuh penderitaan, minim apresiasi, tapi tetap dituntut menang.
Di Taiwan sana, tim wanita mereka punya liga, pelatih, dan fasilitas. Di kita? Kadang jersey saja nyari sponsor kayak nyari jodoh di usia 40. Tapi justru dari keterbatasan itulah para pemain kita melangkah. Mereka bukan sekadar bertanding, mereka melawan sistem.
Apakah Timnas Wanita kita gagal? Ya. Tapi apakah mereka patut dicaci? Tidak. Mereka patut disanjung. Dalam dunia yang menolak menyediakan fasilitas dan dukungan memadai, mereka tetap berdiri. Melawan. Menendang. Menangis. Tapi tidak menyerah.
Kekalahan ini adalah piala tanpa bentuk, trofi dalam bentuk air mata, dan medali dalam bentuk pelukan hangat seluruh rakyat Indonesia yang masih percaya bahwa masa depan sepak bola wanita akan tiba, asal bukan sekarang.
Wahai Garuda Pertiwi, kalian adalah pahlawan. Kalian adalah bintang di malam tanpa lampu. Kalian adalah harapan yang hidup meski tak pernah disiram. Lupakan hasil akhir. Hari ini, kalian telah menang, di halaman sejarah, di dada kami, dan di daftar pujian tertinggi bangsa yang terlalu sering melupakan pejuangnya yang sunyi.
Di grup D Kualifikasi Piala Asia Wanita 2026, Timnas gagal total hanya sekali menang, dua kalah. Taiwan lolos dan juara grup. Sedih, wak! Apa lagi yang bisa membanggakan negeri ini?
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

