Mengenal K2, Gunung Terbuas di Dunia Sudah Menelan 77 Nyawa

Sebelumnya saya sudah mengenalkan Gunung Everest, gunung tertinggi di dunia. Di sana ada 335 mayat yang membeku. Sungguh pun demikian, para pendaki profesional antre ingin ke sana. Kali ini, saya mau mengenalkan gunung tertinggi kedua. Gunung ini juga terkenal, bukan ketinggiannya, melainkan kebuasannya. Sambil seruput kopi tanpa gula, mari kita ungkap gunung yang sudah “ditaklukan” putra Indonesia ini.

Nama gunungnya, K2. Diambil dari nama lokal Karakoram oleh Thomas Montgomerie. Gunung ini bukan untuk yang hobi selfie. Gunung ini adalah arena seleksi alam, laboratorium kematian, tempat di mana tiap langkah bisa menjadi epitaf terakhir. Tingginya 8.611 meter. Hanya 238 meter lebih pendek dari Everest, tapi 2.000 kali lebih tidak bersahabat. Kalau Everest adalah resepsi pernikahan yang ramai dan meriah, maka K2 adalah ruang interogasi gelap tanpa pintu keluar.

Terletak di Pegunungan Karakoram, di antara Pakistan dan Tiongkok, K2 bukan sekadar raksasa es dan batu, ia adalah kesadaran tertinggi dari rasa malu manusia. Malu karena kita sombong. Malu karena kita mengira bisa menguasai alam. Tapi K2? Ia tidak bisa dikuasai. Ia hanya bisa ditaklukkan jika ia sedang tidak malas membunuhmu.

K2 dijuluki Savage Mountain, Gunung Buas. Tapi sebetulnya julukan itu kurang tepat. “Buas” terlalu kasual. K2 bukan sekadar buas. Ia kejam, murung, dan pasif-agresif. Ia punya watak seperti dosen killer, tidak pernah marah langsung, tapi suka menghilangkan nama njenengan dari daftar lulus. Cuacanya lebih moody dari gebetan. Matahari muncul seperti utang janji kampanye, sebentar, dan kemudian hilang entah ke mana. Bahkan di musim panas, badai salju bisa datang mendadak seperti hujan waktu ente lupa angkat jemuran.

Jalur ke puncaknya? Jangan harap seperti trek hiking Instagramable. Rutenya melewati House’s Chimney, tempat kamu bisa merasa seperti sarden dalam kulkas; Black Pyramid, di mana gravitasi bekerja ekstra; dan tentu saja The Bottleneck, jalur horor setipis benang yang menggantung di bawah serakan serac (balok es raksasa) yang bisa runtuh kapan saja. Satu langkah salah, you tidak mati. Sampeyan menghilang dari sejarah.

Berbeda dari Everest yang bisa didaki dari Nepal atau Tibet, semua jalur menuju K2 hanya bisa diakses dari sisi Pakistan. Jalannya, oh Tuhan, bukan seperti jalan tol. Ini jalan yang bikin lutut nuan mempertimbangkan pensiun dini. Jangankan evakuasi, mengangkat alis saja sudah menguras oksigen.

Lalu, seperti mitos yang hidup di atas garis salju, muncullah nama-nama seperti Nirmal Purja, sang mantan pasukan Gurkha yang mendaki 14 puncak 8.000-an meter dalam waktu enam bulan dan enam hari, prestasi yang bahkan membuat Thanos merasa tidak produktif. Bersama tim Sherpa, ia dan Chhang Dawa Sherpa menjadi manusia pertama yang menaklukkan K2 di musim dingin. Waktu itu tanggal 16 Januari 2021. Suhu? Sekitar minus 60 derajat Celsius. Kalau ikam pernah ngeluh AC kantor terlalu dingin, silakan refleksi diri.

Tapi cerita ini tak akan lengkap tanpa menyebut Wanda Rutkiewicz, pendaki wanita dari Polandia yang mencapai puncak K2 pada tahun 1986. Ia tak hanya menjejakkan kaki di puncak, ia meninggalkan jejak pada sejarah. Tahun itu dikenal sebagai Black Summer, karena banyak pendaki lain tewas. Wanda selamat dari badai itu, hanya untuk menghilang bertahun-tahun kemudian di Kangchenjunga. Namun bagi dunia pendakian, ia tidak hilang, ia abadi.

Ada juga Achille Compagnoni dan Lino Lacedelli, duo pendaki Italia yang pertama kali menaklukkan puncak K2 pada 31 Juli 1954. Pendakian mereka adalah sinetron 90-an, penuh drama, intrik, dan tuduhan pengkhianatan logistik. Tapi mereka berhasil. Sejarah mencatat, meski kadang sejarah juga penuh fitnah.

Lalu, mari kita ke fakta yang bikin bulu kuduk berdiri. Hingga kini, sekitar 77 pendaki tewas di K2. Rasio kematian sebelum peralatan modern? Satu dari empat. Iya, lho tak salah baca. Seperempat dari yang naik tidak pernah turun. Banyak jasad masih dibiarkan membeku di lerengnya, seperti peringatan sunyi dari alam bahwa tidak semua mimpi layak diperjuangkan sampai mati. Tidak ada evakuasi mewah seperti di Everest. Tidak ada helikopter. Hanya senyap, es, dan eternitas.

Di tengah semua cerita legendaris itu, tiba-tiba muncul Himawan Santosa, anak bangsa dari negeri tropis, pendaki dari Indonesia, manusia biasa yang menantang ketidakmasukakalan. Tanggal 31 Juli 2022, ia berdiri di puncak K2. Bukan sebagai turis, tapi sebagai simbol bahwa orang Indonesia juga bisa menari di bibir neraka.

Bayangkan transformasinya, dari rutinitas nasi padang menjadi nasi beku. Dari kopi sachet ke oksigen tabung. Dari menghadapi macet Sudirman ke menghadapi longsoran es vertikal. Dari menerima email spam ke menerima panggilan maut dari Bottleneck. Dia tetap berdiri. Di atas dunia. Di antara dewa dan bayangan kematian.

Himawan bukan sekadar mendaki. Ia berdialog dengan alam. Ia membuktikan bahwa “anak nongkrong warung kopi” juga bisa bicara dengan badai. Ia mengibarkan Merah Putih di tempat di mana langit lebih dekat dari harapan, dan tanah tak lagi terlihat. Ia membuktikan satu hal penting, bahwa Indonesia tidak butuh alasan untuk besar. Kita hanya butuh satu orang gila yang cukup berani.

Lalu, K2? Mungkin, untuk pertama kalinya dalam sejarahnya yang dingin dan brutal, ia berbisik pelan dalam deru angin, “Respect.”

Ketika badai datang, tak peduli siapa namamu. Di mata K2, uda dan uni hanyalah molekul berdetak, lalu diam, lalu tak ada. Sebab di sana, langit tak butuh saksi. Salju adalah akhir dari segala ambisi yang terlalu percaya diri.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *