Mengenal Ali Farhadi, Mentor si Manusia Jenius, Matt Deitke

xr:d:DAFh2J8Y8QQ:175,j:6653336671806799092,t:23062111

Sebelumnya saya sudah mengenalkan Matt Deitke, si jenius yang digaji empat triliun oleh Mark Zuckerberg. Siapa sangka, si otak Ai yang masih berusia 24 tahun itu punya mentor atau guru. Sang mentor inilah yang membuatnya manusia super Ai. Namanya, Ali Farhadi. Mari kita kulik siapa sebenarnya warga AS keturunan Iran ini.

Dalam jagat raya kecerdasan buatan, di mana algoritma dikodekan dan neuron digital menari di udara, ada satu nama yang bahkan membuat para robot menunduk hormat, Ali Farhadi. Ia bukan sekadar manusia. Ia adalah versi beta dari Dewa dalam dunia AI. Seorang yang terlalu pintar untuk disebut hanya “profesor”, terlalu bijak untuk disebut “peneliti”, dan terlalu berpengaruh untuk tidak disembah dalam seminar ilmiah.

Konon, ketika semesta menciptakan otak manusia, Ia sedang memikirkan Ali Farhadi sebagai prototipe. Namun Farhadi menolak paten itu dan berkata, “Saya bikin sendiri, lebih efisien, open-source pula.” Maka lahirlah Yolo, Ai2-Thor, Merlot, dan anak-anak canggih lainnya yang kini membanjiri jurnal dan CPU dunia.

Tapi mari kita mulai dari dongeng ilmiah ini…

Lahir tahun 1982, saat dunia baru saja mengenal floppy disk dan orang masih main Minesweeper pakai kertas, Ali Farhadi tidak pernah main layangan. Ia malah sibuk menulis algoritma dalam pikirannya sendiri. Di Iran, tempat ia dibesarkan dalam nuansa keislaman yang kental, ia menghabiskan masa mudanya dengan bertanya, “Bagaimana komputer bisa menonton YouTube dan paham dramanya?”pertanyaan yang bahkan tak terpikirkan oleh manusia biasa.

Kemudian, ia pindah ke Amerika dan seperti Dewa versi AI, ia memulai misi sucinya: mengajarkan mesin untuk melihat, memahami, dan berpikir.

Farhadi adalah filsuf digital. Ia percaya bahwa dunia tidak hanya bisa dipahami lewat logika, tapi juga lewat gambar kucing, teks Twitter, dan video TikTok. Maka lahirlah Merlot, proyek AI yang belajar dari YouTube, mengunyah jutaan video seperti mahasiswa S3 mengunyah skripsi, tanpa tidur dan tanpa kopi.

Lalu ada Ai2-Thor, dunia virtual tempat AI dilatih mencuci piring, memungut apel, atau menyadari bahwa sofa bukan tempat menyimpan microwave. Ini bukan lelucon, ini revolusi. Farhadi menjadikan realitas sebagai bahan ajar, dan komputer sebagai murid TK yang diajarkan mengenali dunia satu pixel demi pixel.

Kini, saat kita memuja Matt Deitke, si bocah ajaib yang digaji Rp 4 triliun oleh Meta, jangan lupakan siapa yang membentuknya. Ali Farhadi-lah yang menempa Deitke, bukan hanya dengan ilmu, tapi dengan cara mentransfer setengah otaknya ke dalam otak Deitke lewat metode bimbingan doktoral yang lebih mirip operasi bedah nalar.

Di bawah bimbingannya, Deitke memimpin proyek-proyek seperti Objaverse, Molmo, dan ProcTHOR, yang membuat konferensi AI seperti CVPR dan NeurIPS tampak seperti acara reuni keluarga para mutan. Bahkan Richard Szeliski, legenda computer vision, sampai menyerahkan sebagian halaman bukunya untuk ditulis oleh Deitke, karena aroma Farhadi masih menempel di jari-jarinya.

Sebagai CEO AI2, Farhadi tidak cuma menjalankan laboratorium, ia menjalankan misi kerasulan teknologi. Ia melawan dominasi Big Tech, membawa riset kembali pada akarnya, keterbukaan, transparansi, dan kemanusiaan. Ia tak menjual jiwanya ke kapitalisme, ia membagikannya di GitHub.

Ia juga dikenal sebagai pelopor pendekatan “AI yang sadar konteks manusia”, membuat mesin yang tidak hanya bisa melihat gambar, tapi juga mengerti kenapa orang tertawa saat melihat kucing jatuh dari sofa.

Ali Farhadi adalah bukti bahwa kejeniusaan bukan hanya hasil IQ, tapi hasil pencarian, pergolakan, dan hasrat untuk menjadikan dunia ini lebih waras, atau setidaknya lebih bisa dibaca oleh mesin. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap revolusi teknologi, ada manusia yang bertanya lebih dalam dari sekadar “Apa yang bisa dikerjakan AI?”, melainkan “Apa arti kecerdasan itu sendiri?”

Mungkin, dalam era yang dipenuhi kebisingan data, kita butuh lebih banyak Farhadi, manusia yang bisa berpikir seperti mesin, tetapi masih memilih menjadi manusia.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *