NPC – Pantai Pulau Merah, salah satu destinasi wisata bahari ternama di Banyuwangi, Jawa Timur, memiliki sejarah menarik asal terbentuknya.
Berlokasi di ujung selatan Jawa Timur, Pantai Pulau Merah menawarkan pesona alam yang memukau dengan hamparan pasir dan lautan yang eksotis. Keindahan alamnya ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan untuk berkunjung.
Namun bagaimana asal-usul penamaan Pulau Merah yang terdengar unik? Ternyata penamaan tersebut bukanlah tanpa alasan, ada penjelasan yang cukup menarik di baliknya. Sebab, sebelum bernama Pulau Merah, kawasan wisata ini dijuluki warga sekitar sebagai pantai Ringin Pitu.
Asal-usul Pantai Pulau Merah
Dilansir dari laman Wonderful Indonesia, awalnya, pantai ini dikenal dengan nama pantai Ringin Pitu. Perubahan nama dari Ringin Pitu menjadi Pulau Merah memiliki dua versi.
Versi pertama menceritakan bahwa perubahan nama tersebut berkaitan dengan warna tanah dan pasir pantai di Pulau Merah yang memang berwarna kemerahan.
Sebagai pantai yang indah namun juga unik, warna merah yang khas dari tanah dan pasirnya memberi inspirasi bagi penduduk setempat untuk mengubah namanya menjadi Pulau Merah.
Versi lainnya menyatakan bahwa pada suatu waktu, terdapat cahaya merah terang yang bersinar dari pulau kecil berbukit di pantai itu, sehingga warga kemudian memberinya nama Pulau Merah.
Berdasarkan cerita yang pertama, nama pantai Pulau Merah ternyata berasal dari sebuah bukit yang menjulang di dekat pantai tersebut. Namun, apa yang membuat bukit itu diberi nama begitu mencolok?
Ternyata tanah di bukit tersebut memiliki warna merah yang sangat khas, mirip dengan warna bata merah. Warna merah tersebut begitu mencolok sehingga bukit itu kemudian dikenal sebagai Pulau Merah.
Tak heran, karena perbedaan warna tanah yang unik ini, Pulau Merah menjadi sangat terkenal dan menjadi titik fokus bagi para wisatawan yang berkunjung ke pantai Pulau Merah.
Uniknya lagi, aksesibilitas Pulau Merah ini juga dapat berubah-ubah seiring dengan pasang surutnya air laut. Saat air surut, pengunjung dapat dengan mudah berjalan kaki menuju Pulau Merah, yang hanya berjarak sekitar 50-100 meter dari bibir pantai. Namun, ketika ombak pasang, pengunjung harus menggunakan perahu untuk mengelilingi pulau tersebut, karena air laut dapat mencapai ketinggian 1,5 hingga 2 meter.
Saat musim hujan tiba, pulau ini akan ditutupi pepohonan hijau yang rimbun. Namun, saat musim kemarau tiba, daun-daun tersebut akan mengering dan berguguran, sehingga tanah merah bata yang menjadi ciri khas Pulau Merah menjadi lebih terlihat.
Tonggak Awal Kemunculan Geopark Ijen
Pulau Merah adalah titik awal dari semua yang ada di kawasan Geopark Ijen. Sekitar 66 juta tahun yang lalu, terjadi tumbukan lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia di selatan, menyebabkan lahirnya daratan baru di wilayah selatan Banyuwangi.
Sebelumnya, wilayah selatan Banyuwangi diyakini merupakan lautan luas. Namun, setelah terjadinya tumbukan lempeng, daratan mulai muncul, membentuk jajaran pegunungan di sepanjang pantai selatan. Di sisi lain, bagian utara kawasan Banyuwangi tetap merupakan danau luas hingga sekitar empat juta tahun yang lalu.
Pegunungan yang terus tumbuh dan berkembang di selatan Jawa ini membuat Pulau Merah menjadi daratan pertama di kawasan Geopark Ijen. Proses erupsi pegunungan juga berkontribusi dalam menciptakan kondisi ideal bagi kehidupan di sekitar pantai Pulau Merah, seperti pertumbuhan flora yang subur dan ketersediaan sumber pakan bagi fauna.
Namun, aktivitas gunung berapi di selatan tersebut akhirnya berhenti sekitar empat juta tahun yang lalu karena pasokan magma menurun bahkan habis. Akibatnya, pembentukan gunung berpindah ke kawasan utara Geopark Ijen.
Pulau Merah, yang merupakan jejak batuan terobosan, adalah sisa tubuh gunung yang kini menjadi ikon pantai Pulau Merah. Sehingga, secara geologis, pantai Pulau Merah merupakan salah satu dari deretan pantai selatan Pulau Jawa.
(Artikel ini ditulis oleh Albert Benjamin Febrian Purba, peserta Magang Bersertifikat Kampus Merdeka di detikcom.)
Editor : Luk

