Ada Rasa yang Kurang

Dulu, setiap akhir pekan adalah ritual kecil yang tak pernah terlewatkan. Ada yang menyiapkan kopi panas, ada yang menggoreng pisang dengan senyum lebar, ada pula yang hanya duduk diam menunggu, menahan rindu yang anehnya tumbuh pada sesuatu yang jauh, di negeri orang.

Di balik layar kaca, Megawati Hangestri Pertiwi bersama Red Sparks tampil bagai lentera yang menyalakan semangat banyak jiwa. Megawati, gadis dari Jember, mengukir namanya di antara gemuruh Liga Voli KOVO Korea. Ia meloncat, ia membelah udara, ia mempersembahkan permainan yang membuat banyak hati menahan napas, berdebar, jatuh cinta.

Setiap gerakan Mega adalah lagu. Setiap smash-nya adalah syair yang menggetarkan. Red Sparks bukan lagi sekadar tim, tapi rumah yang menampung ribuan harapan dan cinta dari negeri yang jauh.

Namun waktu berjalan. Dan pada satu titik, Mega harus pergi. Kontrak itu diputus, bukan dengan benci, bukan dengan amarah, tapi dengan air mata yang tak sempat diseka.

Sejak saat itu, layar kaca terasa lebih kosong. Bukan hanya karena Mega tiada, tetapi karena sepotong hati juga ikut pergi bersamanya. Liga yang dulu dinanti-nanti kini perlahan memudar dari ingatan banyak orang. Tetapi rasa rindu, anehnya, justru makin tumbuh, makin pekat, makin menyakitkan.

Kenangan itu menyeruak. Muncul bayangan Nohran, si libero mungil yang selalu terbang demi mempertahankan bola, wajahnya imut, tekadnya lebih keras lagi. Ada Yeom Hye Seon, kapten yang pantang menyerah bahkan ketika tubuhnya sendiri memohon untuk berhenti. Ia tetap berdiri, tetap berjuang, demi tim yang ia cintai lebih dari dirinya sendiri.

Ada tawa Park Eun Jin, si tukang tiup yang membuat suasana seserius apapun terasa lebih ringan. Ada Jung Hoyoung, si kulkas dua pintu, yang berdiri kokoh di depan net, menjadi tembok hidup yang tak mudah runtuh. Ada juga Pyo Seungju, sang ibu bijaksana yang mengajarkan bahwa kemenangan tak selalu harus diraih dengan kekuatan, kadang dengan kecerdikan, dengan ketenangan.

Semua mereka, satu per satu wajah, satu per satu tawa, satu per satu luka dan cinta, kembali hadir, menggulung hati dalam ombak nostalgia yang dalam dan getir.

Tak bisa dilupakan juga Vanja Bukilic, yang meski sering melakukan kesalahan, tetap menjadi pasangan setia Mega dalam suka dan duka di lapangan. Atau Park Hye Min, yang secara ajaib menjadi libero dadakan dan mencetak kisah indah dengan predikat MVP.

Tak lupa wajah-wajah muda: Jeong Dabin, Lee Seunwoo, Kim Chae-na, An Ye-rim, Shin Eun-ji, Lee Ye-dam… semua bagian dari satu kisah yang kini hanya bisa dikenang, tak lagi bisa disentuh.

Di atas semua itu, ada satu sosok yang membuat dada semakin sesak, Koheejin. Pelatih keras kepala yang menyembunyikan hatinya di balik strategi. Namun, tak mampu menyembunyikan air matanya saat harus melepas Mega di bandara. Pelukan itu, kata-kata yang tertahan, isak tangis yang pecah begitu Mega menghilang dari pandangan… semua itu adalah luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Kini Red Sparks tetap bertanding, tetap berjuang. Tetapi bagi banyak hati yang pernah mencintainya karena Mega, ada rasa yang tak lagi utuh. Ada getar yang tidak lagi sama. Ada kehangatan yang perlahan menjadi dingin.

Mega memang sudah kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Ia juga sudah bermain dengan klub baru. Namun, terasa hambar. Rasa cinta pada Red Sparks selalu membayangi. Emosinya sangat berbeda saat Mega tampil bersama Yeom Hye Seon, dkk.

Sebab, ada rasa yang kurang. Rasa itu, biarlah tetap tinggal di antara kenangan, dalam ruang kecil di hati yang bernama rindu. Saya rindu kenangan itu. Rindu ehem..

#camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *