Belum Waktunya Kurikulum Berbasis AI Diterapkan di Sekolah Dasar Indonesia

(Ririe Aiko-SPKAI)

Penerapan kurikulum berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai menjadi wacana besar dalam dunia pendidikan global. Negara-negara maju seperti Finlandia dan Swedia menjadi contoh bagaimana teknologi dapat diintegrasikan secara bertahap dan terarah dalam sistem belajar-mengajar. Namun, muncul pertanyaan penting bagi Indonesia: apakah tepat jika kurikulum berbasis AI diterapkan sejak jenjang sekolah dasar, mengingat karakteristik pendidikan dan budaya belajar anak-anak Indonesia yang masih sangat berbeda?

Finlandia, misalnya, telah lama dikenal sebagai negara dengan sistem pendidikan yang maju dan humanis. Di sana, AI bukan diajarkan sebagai mata pelajaran tunggal, melainkan diintegrasikan ke dalam berbagai kegiatan pembelajaran lintas disiplin. Program seperti Elements of AI*, yang dikembangkan oleh University of Helsinki, memberikan pemahaman dasar tentang AI kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelajar. Bahkan sejak tingkat dasar, siswa diajak untuk memahami prinsip kerja AI, bukan sekadar menggunakannya. Pendekatan yang diambil Finlandia tidak hanya menekankan pemahaman teknis, tetapi juga membangun kesadaran etis dan berpikir kritis sejak dini.

Swedia pun mulai mengintegrasikan AI dalam sistem pendidikannya melalui sejumlah pilot project. Pemerintahnya telah mengalokasikan dana besar untuk pengembangan teknologi pembelajaran, termasuk penggunaan platform AI dalam asesmen dan pembelajaran adaptif. Namun, Swedia masih berhati-hati. Mereka belum menetapkan AI sebagai kurikulum wajib nasional, melainkan membiarkan sekolah-sekolah mengujicobakannya secara terbatas sambil mengembangkan kebijakan yang lebih komprehensif.

Sementara itu, jika kita mengalihkan pandangan ke Indonesia, realitas yang dihadapi cukup berbeda. Data dari Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa tingkat literasi membaca siswa Indonesia masih rendah, berada di peringkat 74 dari 79 negara. Anak-anak Indonesia, terutama di tingkat dasar, belum terbiasa membangun pemahaman melalui proses membaca yang mendalam, diskusi terbuka, atau eksplorasi ide secara mandiri. Di tengah budaya literasi yang masih lemah ini, penerapan kurikulum berbasis AI justru dikhawatirkan akan memperparah ketergantungan pada jawaban instan.

AI memiliki potensi besar dalam membantu proses belajar. Namun, jika anak-anak sejak dini terbiasa ‘bertanya pada mesin’ untuk setiap persoalan, maka risiko menurunnya kemampuan berpikir kritis dan kreatif menjadi nyata. Alih-alih mendorong eksplorasi pengetahuan, teknologi justru bisa menjadi jalan pintas yang mematikan rasa ingin tahu alami anak. Lebih jauh, kehadiran teknologi yang intensif juga memicu kekhawatiran akan screen time berlebih, yang tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik tetapi juga pada kualitas interaksi sosial dan emosi anak-anak.

Anak-anak di jenjang sekolah dasar sedang berada dalam fase perkembangan yang membutuhkan ruang untuk membaca, menulis, berimajinasi, bertanya, dan menemukan jawaban lewat proses belajar yang nyata. Mereka belum memiliki kapasitas untuk menyaring informasi secara kritis, apalagi jika informasi tersebut datang dari teknologi yang tampil meyakinkan namun tidak selalu akurat atau netral. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting sebagai pendidik sekaligus penuntun nalar. Penerapan AI yang menggantikan atau bahkan mengambil alih peran ini tentu berisiko mereduksi nilai-nilai dasar pendidikan.

Mengacu pada kondisi ini, penerapan kurikulum berbasis AI secara luas di sekolah dasar Indonesia sebaiknya tidak dilakukan secara tergesa. Perlu ada kajian mendalam yang mempertimbangkan kesiapan budaya belajar, kapasitas guru, infrastruktur sekolah, hingga tingkat kedewasaan digital anak-anak. Langkah paling masuk akal saat ini adalah memperkuat terlebih dahulu fondasi literasi dasar—membaca, menulis, dan berpikir kritis—sebelum memperkenalkan teknologi tingkat lanjut seperti AI ke ruang kelas dasar. AI dapat mulai diperkenalkan secara terbatas sebagai alat bantu visualisasi atau eksplorasi konsep, tetapi bukan sebagai sumber utama pengetahuan.

Dalam konteks pendidikan Indonesia, teknologi harus dijadikan pelengkap, bukan pengganti proses belajar yang sesungguhnya. Anak-anak Indonesia tidak bisa disamakan begitu saja dengan anak-anak di negara-negara maju yang telah tumbuh dalam sistem pendidikan yang membangun kemandirian berpikir sejak awal. Oleh karena itu, sebelum terburu-buru mengadopsi kurikulum AI untuk siswa sekolah dasar, mari kita pastikan dulu bahwa budaya literasi dan kemampuan berpikir mandiri telah benar-benar tumbuh di dalam diri mereka. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *