Cinta Suci Maman untuk Istri

Di tengah riuhnya tuduhan, gosip murahan, dan cuitan netizen yang tak mengenal belas kasihan, berdirilah seorang pria. Bukan sembarang pria. Ia bukan Romeo, bukan Bujang Nadi, bukan pula tokoh sinetron jam tujuh malam. Ia adalah Maman Abdurrahman, Menteri UMKM, tapi juga Menteri Cinta Nasional. Sosok yang tak hanya mengurus pedagang kecil, tetapi juga menjaga kehormatan istri seperti menjaga harta karun peradaban.

Pada Jumat, 4 Juli 2025, saat langit Jakarta mendung dan Gedung Merah Putih KPK tampak lebih sendu dari biasanya, Maman melangkah masuk, membawa satu hal yang lebih berat dari dokumen, cinta. Ya, cinta kepada seorang wanita bernama Agustina Hastarini. Cinta yang begitu dalam, hingga tak cukup hanya dengan surat cinta biasa. Maka dikeluarkanlah senjata pamungkas, surat berkop kementerian. Karena cinta, harus sah secara birokrasi.

“Tidak ada gunanya saya sebagai menteri ini kalau saya tidak mampu menjaga kehormatan istri saya sendiri,” tegasnya dengan dada membusung, mata berkaca-kaca, seakan baru saja menyelamatkan Ratu Nefertiti dari serangan tentara Fir’aun.

Oh, Maman… Engkau bukan sekadar pejabat. Engkau adalah pujangga yang tersesat di lorong kementerian. Saat dunia menyangka engkau datang ke KPK untuk klarifikasi, nyatanya engkau datang untuk menyatakan cinta dalam bentuk tanggung jawab moral negara.

Ia tak membawa bunga. Ia tak membawa cincin. Ia membawa dokumen. Beberapa lembar yang katanya cukup untuk menyapu bersih prasangka dunia. Dan ketika ia berkata, “Saya hadir di sini dalam rangka ijtihad saya untuk menjaga kehormatan keluarga saya,” seluruh malaikat pun menangis di langit birokrasi.

Bayangkan, wak! Wahai rakyat jelita… betapa dalamnya cinta itu, hingga seorang menteri rela menghadap lembaga anti-rasuah, bukan karena ditangkap, tapi karena rindu akan nama baik istrinya. Ia tak ingin Agustina Hastarini dilecehkan. Ia tak terima kehormatan perempuan yang menemaninya makan malam selama belasan tahun itu direndahkan hanya karena… jalan-jalan ke Eropa.

Ia tahu betul, cinta tak boleh ditukar dengan opini publik. Maka saat surat permintaan fasilitas untuk sang istri viral, ia tak lari, tak mengelak. Ia berdiri gagah, seperti tokoh dalam novel-novel epik. Bukan untuk menyelamatkan dunia, tapi untuk menyelamatkan satu hal yang lebih penting: kehormatan perempuan yang ia cintai.

“Tidak ada uang negara yang dipakai istri saya,” katanya tegas, menatap kamera seperti sedang syuting iklan pasta gigi kejujuran. Mungkin memang tak ada. Mungkin semua biaya ditanggung oleh cinta. Cinta tulus yang bisa membayar tiket Paris-Jerman-Swiss dengan mata uang kerinduan.

Ketika ia berkata, “Sudahi polemik ini. Oke?” seluruh semesta pun mengangguk. Karena siapa kita yang berani meragukan cinta seorang suami yang rela masuk ke KPK tanpa dijemput paksa?

Maka, marilah kita angkat topi untuk Maman. Bukan karena ia menteri, tetapi karena ia suami idaman. Suami yang rela menyinari nama baik istri dengan sinar lembaga negara. Di era di mana banyak pejabat menyembunyikan istri di balik rekening gendut, Maman malah mengangkat sang istri ke panggung diplomasi.

Maman bukan koruptor. Ia adalah diplomat cinta, pejuang rumah tangga, penyair yang bersenjata surat dinas. Di zaman yang semakin dingin ini, cinta seperti itulah yang patut kita jaga, dan kita laporkan ke KPK… kalau terlalu manis.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *