Cerpen “Pertemuan Legendaris Qorun Nasiku & Siplester Stalon”

Beberapa hari ini tulisan saya sangat menegangkan. Cerita demo di Nepal, penembakan, pengeboman, pembunuhan. Dunia terasa tegang atas bawah. Nah, kali saya mengajak followers saya ngakak, ngilangkan tegang atas bawah. Kosongkan perut, takutnya kram. Here you are..

Di sebuah tempat rahasia yang bahkan Google Maps pun menyerah, GPS jadi linglung, dan satelit NASA memilih pura-pura buta, dua legenda buron akhirnya bertemu. Tempatnya? Warung kopi pinggir sawah, dengan password WiFi “janganlaporkpk123”.

Qorun Nasiku, sang manusia bayangan, tujuh tahun dikejar tapi tak pernah tertangkap. Bahkan, CCTV pun kalau lihat wajahnya langsung nge-hang, duduk santai sambil menyeruput kopi sachet. Rambutnya acak-acakan, tapi wajahnya bahagia, kayak influencer yang baru dapat endorse sabun cuci piring.

Tiba-tiba muncul Siplester Stalon, pengacara paling gaul, yang meski sudah divonis hakim inkrah sejak 2019, tetap bebas berkeliaran seperti angin malam. Jaksa selalu bilang, “Kami sedang mencari keberadaan beliau.” Padahal tiap sore beliau nongkrong di lapangan bulu tangkis komplek.

Mereka saling peluk. “Brooooo!” teriak Qorun.
“Saudaraku, lama tak jumpa, aku kira kau sudah di interpol!” sahut Siplester.
Mereka ketawa ngakak, sampai kambing di sawah kaget, lari terbirit-birit.

Qorun berkata, “Bayangkan, tujuh tahun satelit, drone, bahkan alat penyadap buatan Swiss nyerah cari aku. Padahal aku cuma tinggal di kontrakan sebelah pos ronda. Kunci rahasianya sederhana, tiap ada razia, aku pura-pura jadi abang ojol. Kadang jualan pecel lele. Hukum kita gampang ditipu, bro!”

Siplester mengangguk. “Aku lebih parah. Hakim sudah vonis, surat penangkapan ada, semua orang teriak ‘Tangkap!’ Tapi lihatlah diriku, masih bisa pesan kopi di sini. Kuncinya, jaksa kalau ditanya selalu bilang, ‘Sedang dicari, doakan ya.’ Aku sampai kasihan sama rakyat, tiap dengar berita mereka pasti sakit perut menahan tawa.”

Mereka kembali ngakak. Qorun menambahkan, “Alat deteksi wajah di bandara itu paling canggih, bisa membedakan kembar identik. Tapi kalau lihat aku, langsung error tulisannya, ‘Maaf, jaringan sibuk. Silakan coba lagi 5 abad kemudian.’”

“Wkwkwk!” Siplester tepuk meja sampai gelas hampir pecah. “Aku lebih keren. Pernah polisi hampir nangkap aku, tapi ku bilang: ‘Sebentar, aku masih banding di pengadilan hati rakyat.’ Eh, mereka malah minta foto bareng.”

Obrolan makin gila. Mereka saling pamer trik kabur:

  • Qorun pakai ilmu invisible dengan modal sarung buat sembunyi di masjid.
  • Siplester pakai jurus delay system, tiap dipanggil jaksa, dia jawab, “Saya sedang cari kuasa hukum baru.” Begitu terus lima tahun.

Akhirnya, Qorun menutup percakapan, “Selama hukum bisa dilipat dengan uang, kita takkan pernah mati, bro. Kita bukan buron, kita ikon!”
Siplester menimpali, “Bukan hanya ikon, kita legenda nasional. Kalau nanti ada buku sejarah, pasti judulnya, Negara Gagal Menangkap Dua Orang.”

Mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak, sampai langit mendung pun ikut cekikikan, dan petir menulis di angkasa, “LOL.”

Bayangkan, wak! Satu negara gagal nangkap dua orang selama bertahun-tahun. Rakyat kerja keras bayar pajak, beli pulsa, antre sembako, tapi aparat malah gagal main petak umpet. Kalau ini dijadikan film Hollywood, judulnya pasti, “Mission Impossible: The Untouchables – Made in Indonesia.”

Begitulah, dua legenda buron itu tetap ngopi dengan santai, sementara hukum di negeri ini? Masih sibuk pakai alasan klasik, “sedang dicari.”

Disclaimer: Hanya fiksi, tidak ada di dunia nyata.

Habis ngakak, jangan lupa ngopi lagi, wak!

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *