Samarinda, Niagapost – Merasa tidak tahan dengan rasa sakit yang dideritanya, juga perasaan membebani keluarga, seorang pasien gagal ginjal di RSUD AWS Samarinda diduga bundir mengakhiri hidupnya dengan gantung diri menggunakan sehelai kain sarung.
Korban bundir tersebut diketahui
berinisial US (68), jasadnya ditemukan tergantung di ventilasi kamar ruang Angsoka kamar nomor 2002 Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Wahab Sjahranie (RSUD AWS) Samarinda, pada Minggu (6/7/2025) sore, sekitar pukul 17.46 Wita. Korban diketahui sudah dirawat di ruangan tersebut selama kurang lebih satu minggu.
Korban yang diketahui warga Palaran ini, ditemukan sudah tak bernyawa oleh Heri, perawat jaga saat hendak melakukan kontrol rutin. Sontak penemuan yang gegerkan dunia medis di Samarinda itu segera dilaporkan ke pihak kepolisian.
Kapolsek Samarinda Ulu, AKP Wawan Gunawan melalui Kanit Reskrim, Ipda Eko Harianto, saat diwawancarai usai olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), membenarkan insiden ini.
“Kami menerima laporan adanya dugaan bunuh diri di RS AWS Syahranie, tepatnya di ruang Angsoka nomor 2002,” terang Eko Harianto.
Usai penemuan tragis tersebut, pihak rumah sakit segera menghubungi anak korban. Keterangan dari anak korban, US diketahui memiliki riwayat penyakit gagal ginjal dan komplikasi serius, serta seringkali dilanda depresi akut akibat kondisi kesehatannya.
“Ada indikasi korban sebelumnya pernah mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hidupnya karena tidak tahan dengan sakit yang dideritanya dan merasa membebani keluarganya,” ungkap Eko Harianto, mengutip keterangan keluarga.
Pernyataan ini menguatkan dugaan depresi menjadi faktor utama di balik tindakan nekat korban.
Merespons laporan, tim kepolisian dari Polsek Samarinda Ulu bersama tim Inafis segera bergerak cepat melakukan olah TKP dan memasang garis polisi di lokasi kejadian. Dari pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, kecuali bekas cekikan di leher dan adanya cairan kencing yang menetes, yang mengindikasikan kuat aksi gantung diri.
Menariknya, Eko Harianto juga mengungkapkan kamar tempat korban dirawat adalah kamar tunggal.
“Mengenai keberadaan CCTV di dalam kamar, pihak rumah sakit menyatakan setiap kamar dilengkapi dengan CCTV,” tambahnya.
Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak RSUD AWS belum memberikan konfirmasi resmi atau keterangan lebih lanjut terkait insiden pasien yang diduga gantung diri di Ruang Angsoka ini.
Jenazah korban telah dibawa ke kamar jenazah untuk proses lebih lanjut. Saat ini, pihak kepolisian masih menunggu keputusan dari keluarga korban terkait apakah akan dilakukan autopsi menyeluruh atau jenazah akan langsung diserahkan untuk dimakamkan.
Peristiwa tragis ini tak ayal memicu perbincangan hangat di kalangan masyarakat Samarinda, umumnya mempertanyakan tentang penanganan pasien dengan riwayat depresi di fasilitas kesehatan. (zul/busam.id)
Editor : Luk

