Gertakkan Trump yang Membuat Indonesia Tak Bertaji

Saya kira Donald Trump hanya jago menggertak. Petantang-petenteng. Ternyata, gertakkannya memang ampuh. Negeri kita pun dibuat tak bertaji. Ya, mau gimana lagi, negara super power mau dilawan. Mari kita ungkap kesepatakan Paman Sam dengan Prabowo sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Pada pagi yang murung, dunia mendadak dicekam oleh kabar yang lebih mengejutkan dari sinetron episode terakhir, Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump berdiri tegap di podium dan dengan senyum penuh kemenangan. Si rambut jagung ini mengumumkan, semua barang ekspor dari Indonesia ke AS kini dikenakan tarif 19%. Bukan main-main. Ini bukan tarif karena salah parkir, ini tarif karena dianggap negara berkembang yang terlalu banyak berharap.

Awalnya Trump menggertak dengan tarif 32%. Ini seperti pedagang pasar yang buka harga setinggi langit. Tapi, setelah negosiasi dengan Presiden Prabowo Subianto yang penuh intrik, dramatisasi, dan diplomasi ala silat jurus dasar, tarif itu “berhasil” diturunkan jadi 19%. Sebuah kemenangan? Tergantung dari mana melihatnya. Karena untuk mendapatkan ‘diskon’ itu, Indonesia harus rela membeli energi dari Amerika senilai USD 15 miliar, membeli produk pertanian senilai USD 4,5 miliar, dan mengimpor 50 pesawat Boeing yang bahkan sebagian besar bandaranya belum tentu sanggup menerima pendaratan jumbo jet sekelas 777. Sebuah barter yang kalau diceritakan ke anak cucu nanti, bisa dikira legenda urban atau stand-up comedy.

Sementara Trump berdiri bak Julius Caesar baru saja menaklukkan Britania, ia pun dengan bangga menyatakan bahwa Amerika Serikat kini memiliki akses penuh ke tembaga Indonesia. “Kami tidak akan membayar tarif apa pun,” katanya, dengan gaya yang membuat tembaga di tanah Papua tiba-tiba menggigil kedinginan. Negeri kekuasaan Prabowo ini buru-buru membalas dengan narasi, tenang, semua harus melalui hilirisasi. Tapi dalam bahasa dagang internasional, “akses penuh” artinya pintu sudah terbuka, dan siapa pun yang pegang kuncinya bisa masuk, duduk, dan minum kopi sambil menawar harga.

PT Freeport Indonesia mencoba menenangkan suasana dengan mengatakan bahwa mereka selama ini tidak mengekspor ke AS, tapi ke China. Tapi siapa yang bisa menjamin? Dalam geopolitik, pernyataan bisa lebih lentur daripada plastik kemasan. Toh, kalau Trump sudah bicara, dunia mendengarkan. Ketika Indonesia berbicara? Dunia menunduk… bukan karena hormat, tapi karena sibuk main ponsel.

Para ekonom pun mulai bicara. Bukan dengan bahasa birokrasi, tapi dengan suara gemetar. Prof. Syafruddin Karimi dari Universitas Andalas menyebut kesepakatan ini sebagai bentuk ketimpangan dagang yang paling konyol sejak zaman kolonial. Produk Amerika masuk ke Indonesia tanpa hambatan, tanpa tarif, tanpa basa-basi. Sementara produk Indonesia? Tetap harus bayar 19%. Ini ibarat tamu kehormatan yang disuruh beli tiket masuk. Bhima Yudhistira dari Celios mengatakan, kesepakatan ini akan memperlebar defisit neraca dagang dan membuat nilai tukar rupiah jungkir balik seperti pemain sirkus murahan. Sementara itu, CSIS menegaskan bahwa posisi tawar Indonesia terlihat lemah. Bahkan, dibandingkan Vietnam yang bisa menegosiasikan perjanjian lebih adil. Vietnam berdagang, Indonesia berdamai.

Trump menyebut kesepakatan ini bersejarah. Benar, tapi sejarah yang akan dikenang sebagai saat di mana satu negara menukar sumber daya alamnya dengan janji-janji yang terdengar manis tapi isinya kosong. Di balik semua ini, ada rasa pahit yang tak bisa disembunyikan. Petani lokal akan bersaing dengan jagung Nebraska. UMKM akan tercekik oleh produk impor murah. Industri dalam negeri menatap langit, berharap subsidi, tapi yang datang justru gelombang barang-barang Amerika dalam kontainer penuh euforia.

Di akhir hari, Prabowo berdiri sendirian di beranda Istana, memandangi langit Jakarta yang mendung. Di tangannya masih tergenggam lembaran kesepakatan dagang. Angin berembus pelan. Dalam hatinya, ia mungkin berbisik, “Beginikah rasanya menang… ketika seluruh negeri merasa kalah?”

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *