Tiga Pentolan JP yang Berusaha Jebloskan Dahlan Iskan ke Penjara

Kisah konflik Jawa Pos (JP) terus bergulir. Publik tahunya JP itu Dahlan Iskkan. Banyak followers saya tanya, siapa sih orang JP yang berusaha benar ingin menjebloskan Abah DI ke penjara? Mari simak narasinya sambil seruput kopi tanpa gula, cak!

Di negeri di mana drama hukum kadang lebih menguras emosi dari episode sinetron dengan 1200 judul dan 4 pemain utama yang berganti wajah tiap Ramadan, terbitlah sebuah pertunjukan besar, pertarungan antara Dahlan Iskan dan perusahaan yang dulu menjadi ladang panennya, PT Jawa Pos Holding. Dahlan, sang mantan Menteri BUMN yang dulu bergaya bak CEO Silicon Valley yang nyasar di Tanah Abang, kini menjadi antagonis sementara dalam kisah penuh tragedi korporasi dan kepemilikan saham yang lebih kompleks dari teori relativitas Einstein jika dijelaskan pakai bahasa Sunda. “Aya..aya waek, kang.”

Nah, inilah trio pentolan dari JP yang ngebet bangat agar pria yang sudah ganti hati itu masuk jeruji. Mereka adalah Hidayat Jati, Daniel Tangkau, dan Tonic Tangkau. Mereka bukan cuma direksi dan kuasa hukum biasa, mereka adalah para gladiator hukum yang tampil dengan jargon-jargon litigasi yang terdengar seperti mantra dalam rapalan pengusiran jin keuangan. Hidayat Jati, misalnya, tidak hanya tampil sebagai direktur, dia adalah putra dari Goenawan Mohamad, begawan jurnalisme Indonesia. Meski tidak tercatat pernah jadi wartawan aktif, ia jelas lahir dan tumbuh di orbit media, seperti anak petani yang tahu cara bercocok tanam meskipun belum pernah pegang cangkul.

Warisan media ini tampak dalam gaya retorikanya yang filosofis. Ketika membahas praktik nominee era Orde Baru, ia tak sekadar berbicara soal kepemilikan, ia menyentuh soal hakikat titipan, seolah saham bisa menjadi metafora kehidupan, “Milik siapa sesungguhnya, ketika nama tercantum tapi niat tak terpampang?” Bahkan Sartre mungkin akan membatin, “Saya menyerah.”

Sementara itu, Daniel dan Tonic Tangkau, duo pengacara dengan spesialisasi dalam menyelami dokumen seperti tukang gali kuburan korporat, terus maju mendesak agar dunia tahu bahwa dividen Rp89 miliar telah berpindah tangan “dengan cara yang tidak biasa”. Cara tidak biasa di sini bisa berarti apa saja dari teleportasi finansial hingga pemanggilan roh audit. Mereka mengklaim punya bukti, punya kronologi, dan punya semangat menuntut seperti detektif Jepang yang tidak tidur selama seminggu demi memecahkan misteri, meskipun misterinya mungkin cuma kenapa kantin tidak jual nasi padang lagi.

Di tengah pusaran ini, Dahlan tetap tenang. Sang reformis memilih posisi kontemplatif ala biksu teknologi. Ia tidak menyerang balik dengan jurus hukum, tapi lebih memilih membiarkan semesta menilai. Publik pun menjadi bagian dari pertunjukan, mereka tak hanya menonton, mereka membentuk opini, grup WA, bahkan membuat meme yang lebih pedas dari rendang rawit.

Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar siapa yang salah, tapi siapa yang akan dikenang. Apakah Dahlan, sang pionir yang mungkin korban sistem? Ataukah direksi Jawa Pos, yang mungkin sedang menjalankan penertiban ala reformasi korporat versi tokoh anime?

Dalam drama ini, tidak ada pahlawan murni. Hanya ada karakter-karakter epik yang ditulis oleh sejarah, dihias oleh satir, dan digerakkan oleh emosi massa. Hidayat membawa filosofi media, Daniel dan Tonic membawa strategi hukum, dan Dahlan membawa kenangan idealisme tentang pers yang seharusnya bebas tapi kini dikepung oleh notulen dan akta.

Ini bukan cuma perseteruan tentang siapa memiliki apa. Ini soal siapa memahami makna dari memiliki, bahwa dalam hukum, seperti dalam cinta, kadang yang tertulis bukan yang sebenar-benarnya dimaksud. Maka bersiaplah, karena epos ini belum mencapai klimaks. Bahkan kameramen hukum pun masih bingung angle mana yang paling dramatis.

Episode selanjutnya? Mungkin akan melibatkan audit metafisik, klarifikasi spiritual, atau munculnya saksi kunci yang ternyata adalah mantan editor kolom horoskop JP. Siapa tahu. Karena dalam saga Nusantara ini, absurditas bukan pengecualian. Ia adalah gaya hidup.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *